Pempek Berasal dari Mana? Menelusuri Asal Usul Kuliner Legendaris Palembang
Pempek atau empek-empek berasal dari Palembang, siapa yang tak kenal makanan khas ini? Bentuknya bisa lonjong, bulat, atau pipih, dan selalu disajikan dengan kuah hitam pekat bernama cuko. Gurihnya adonan ikan dan sagu yang berpadu dengan cuko asam pedas membuat pempek tak hanya digemari di Palembang, tapi juga di seluruh Indonesia.
Namun, tahukah kamu dari mana sebenarnya pempek berasal? Apa sejarah di balik makanan yang satu ini? Apakah benar pempek merupakan kuliner asli Palembang? Mari kita telusuri jejak sejarah, mitos, dan fakta yang membentuk kisah kuliner ini.
untuk Order Pempek hubungi WA Pempek Nony 168 0852 7949 0612
Asal Usul Nama Pempek berasal dari mana?
Nama “pempek” atau disebut juga dengan “empek-empek”

diyakini berasal dari panggilan akrab masyarakat Palembang kepada seorang pria Tionghoa tua yang pertama kali menjual makanan ini: “Apek”. Apek dalam bahasa Hokkien adalah sebutan untuk laki-laki tua keturunan Tionghoa.
Konon, sekitar awal abad ke-16, seorang apek yang tinggal di sekitar Sungai Musi merasa prihatin melihat ikan-ikan hasil tangkapan nelayan yang tidak dimanfaatkan secara optimal. Ia lalu mencoba menggiling ikan-ikan tersebut dan mencampurnya dengan tepung sagu, menciptakan adonan baru yang bisa dibentuk dan direbus.
Makanan ini kemudian dijual keliling oleh sang Apek. Karena masyarakat sering memanggilnya dengan sebutan “Pek…pek!”, maka jadilah makanan itu dikenal sebagai pempek.
Benarkah Pempek Berasal dari Palembang?
Secara umum, ya—pempek memang lahir dan besar di Palembang, dan kini dianggap sebagai identitas kuliner kota tersebut. Meskipun unsur pengaruh Tionghoa cukup kuat dalam penciptaannya, pempek berkembang sepenuhnya di lingkungan budaya Palembang.
Kota ini, sejak dahulu, adalah pusat perdagangan yang ramai di Sumatera Selatan. Interaksi antara penduduk lokal dengan para pedagang Tionghoa, Arab, dan India turut memperkaya warisan kuliner di sana. Pempek pun menjadi contoh nyata asimilasi budaya kuliner lokal dan pengaruh asing yang berhasil bertahan dan berkembang hingga kini.
Pempek dan Sungai Musi: Ikatan Sejarah yang Kuat
Sungai Musi merupakan nadi kehidupan masyarakat Palembang. Di sinilah banyak nelayan menangkap ikan—terutama ikan belida, tenggiri, atau gabus—yang kemudian digunakan sebagai bahan dasar pempek.
Karena sumber protein utama penduduk berasal dari ikan air tawar, tidak heran jika makanan ini cepat menyebar dan menjadi favorit. Apalagi, proses pembuatan pempek membuat ikan bisa diawetkan dalam bentuk yang lebih tahan lama dan mudah dibawa bepergian.
Hingga saat ini, banyak penjual pempek legendaris di Palembang yang lokasinya tak jauh dari Sungai Musi, seperti di kawasan Benteng Kuto Besak atau Pasar 16 Ilir.
Kapan Pempek Pertama Kali Tercatat dalam Sejarah?
Walaupun kisah tentang Apek sudah cukup populer, tidak ada catatan resmi tertulis yang menyebutkan tahun pasti kapan pempek pertama kali diciptakan. Namun, para sejarawan memperkirakan pempek sudah mulai dikenal masyarakat sejak abad ke-16, pada masa Kesultanan Palembang Darussalam.
Kala itu, makanan yang praktis, ekonomis, dan tahan lama sangat dibutuhkan—terutama untuk bekal dalam perjalanan sungai. Pempek menjawab kebutuhan itu, sekaligus menawarkan cita rasa yang luar biasa.
Dari Makanan Rakyat Menjadi Kuliner Nasional
Awalnya, pempek hanyalah makanan rakyat biasa, dijajakan dengan pikulan atau gerobak dorong. Namun seiring waktu, pempek menjadi ikon kuliner nasional. Kini, pempek tidak hanya dinikmati oleh warga Palembang, tapi juga menjadi oleh-oleh wajib, dijual di berbagai kota besar, bahkan bisa dipesan secara online dalam bentuk beku (frozen food).
Bahkan di luar negeri, banyak warga Indonesia membuka bisnis pempek di negara seperti Malaysia, Singapura, hingga Belanda dan Australia.
Ciri Khas Pempek yang Tak Tergantikan
Yang membedakan pempek dari makanan lainnya bukan hanya bahan dasarnya, tapi juga cuko—kuah hitam yang terbuat dari campuran gula aren, asam jawa, bawang putih, ebi (udang kering), dan cabai rawit. Cuko adalah elemen penting dalam pengalaman makan pempek. Setiap penjual biasanya memiliki resep cuko rahasia yang diwariskan turun-temurun.
Di sinilah letak kekuatan pempek: meskipun bentuknya beragam (kapal selam, adaan, lenjer, pistel, kulit, dsb.), semuanya akan terasa lengkap hanya jika disantap dengan cuko yang tepat.
Perkembangan Varian Pempek berasal dari apa saja
Dari adonan dasar yang sama, jenis jenis pempek berasal dari berbagai macam inovasi dan berkembang menjadi banyak jenis, antara lain:
-
Pempek Kapal Selam: berisi telur ayam utuh, simbol pempek “kelas atas”.
-
Pempek Lenjer: panjang tanpa isian, cocok untuk dipotong dan dibagi.
-
Pempek Adaan: bulat, digoreng, biasanya dicampur dengan bawang dan santan.
-
Pempek Kulit: terbuat dari kulit ikan, aroma ikan lebih kuat.
-
Pempek Pistel: berisi pepaya muda tumis, perpaduan gurih dan manis.
-
Pempek Panggang: dimasak di atas bara api, diisi sambal ebi dan kecap.
Inovasi ini membuktikan bahwa pempek bukan hanya satu resep, tapi sebuah “kanvas” rasa yang bisa dikembangkan sesuai kreativitas.
Kesimpulan: Pempek, Lebih dari Sekadar Makanan
Pempek bukan hanya kuliner, melainkan identitas budaya Palembang yang telah menembus batas ruang dan waktu. Dari seorang apek yang kreatif, hingga kini menjadi industri kuliner nasional yang membanggakan, pempek adalah contoh nyata bagaimana makanan bisa menjadi warisan hidup.
Jadi, ketika kamu menyantap sepotong pempek dengan cuko pedas, kamu sebenarnya sedang merasakan sejarah ratusan tahun, perpaduan budaya lokal dan asing, serta kehangatan dari kota di tepian Sungai Musi.
